• Enter Slide 1 Title

    This is slide 1 description.

  • Enter Slide 2 Title

    This is slide 2 description.

  • Enter Slide 3 Title

    This is slide 3 description.

  • Enter Slide 4 Title

    This is slide 4 description.

  • Enter Slide 5 Title

    This is slide 5 description.

  • Enter Slide 6 Title

    This is slide 6 description.

  • Enter Slide 7 Title

    This is slide 7 description.

  • Enter Slide 8 Title

    This is slide 8 description.

  • Enter Slide 9 Title

    This is slide 9 description.

Wednesday, February 4, 2009

MENYOAL PROSES, MEMBENTUK PEMBELAJARAN

Ulasan musik drama-tari “Sri Tanjung” oleh : I Wayan Sadra*

SECARA hakekat musik, bunyi atau suara adalah energi yang liar dan bebas tafsir. Namun, ketika kebudayaan dan civilisasi manusia mulai terbentuk, maka musik diberikan makna, arti, simbol, kagunaan atau fungsi-fungsi bagi kehidupan manusia. Terlebih bagi dunia seni.



Dalam seni pertunjukan, musik menjadi element penting kendati terkadang diposisikan pada level sekunder, atau bahkan sering menjadi subordinasi dari penampilan seni yang pokok. Sebab itu, pada posisi subordinasi ini, dalam dunia tari misalnya kerapkali musik, komposisi atau gending berubah nama menjadi musik pengiring tari.

Namun, akhir-akhir ini lewat diskusi dan debat yang sengit diantara para ahli seni pertunjukan sebutan musik pengiring itu telah berubah menjadi musik tari saja. Tanpa embel-embel pengiring. Hal ini dengan sendirinya telah merubah makna konotatif dari musik menjadi lebih bergengsi, setara dan sejajar. Disamping alasan emansipasi dan demokratisasi peran medium-medium seni dalam seni pertunjukan, kritik yang paling tajam muncul dengan mempertimbangkan bahwa pada akhir-akhir dekade atau milenium lalu mayoritas karya-karya yang lahir didominasi oleh kualitas instant yang kehilangan elan prosesnya. Musik seolah hanya menjadi barang pesanan setelah karya-karya yang dielaborasi itu telah lahir terlebih dahulu.

Padahal , banyak karya-karya klasik ataupun kontemporer yang lahir dengan memakai komposisi gending atau format lagu yang sudah ada. Kalau toch ada karya tari dan music yang berproses secara bersama-sama, mungkin kita bisa berkaca pada betapa cantiknya kolaborasi yang dilakukan oleh maestro Mario dan Sukra dalam menciptakan karya kebyar yang progresif dan baru pada jamannya. Sebab itu, menjadi menarik kiranya bagi penulis untuk menyoal proses penciptan musikal drama tari “Sri Tanjung” yang dilakukan oleh Kadek Suardana dan kawan-kawan dari Arti Foundation. Karya tersebut telah diujicobakan di gedung Ksiarnawa Taman Budaya Denpasar pada tanggal 23 Desember tahun lalu.

Sumbang saran yang diberikan sesusai ujicoba oleh para pakar seni pertunjukan seperti I Made Bandem, I Wayan Dibya, I Nyoman Catra dan Wakil Gubernur Bali Puspayoga, kesemua itu lebih mewacanakan aspek dramaturgi dan prospek kedepan “Sri Tanjung” sebagai karya seni pertunjukan kontemporer. Akan tetapi, justru penulis melihat bahwa musiknyalah yang telah memberikan sumbangan lebih besar bagi kebaruan seni pertunjukan ketimbang peran tari atau dramanya.

Sebelum karya musik “Sri Tanjung” tercipta, komponis telah memasusi proses eksperimentasi untuk membuat alat musik yang terdiri dari saron dan jegogan slonding dan rindik yang meniru embat atau pelarasan seperti yang ada pada piano. Alat-alat musik akustik inilah yang kemudian akan menjadi sampel-sampel bunyi, kemudian direkayasa dan disiasati.



Menjadi Kesatuan

Berbagai elemen musikal disusun dan ditata menjadi kesatuan yang utuh berdasarkan gambaran tentang tema dari ceritra “Sri Tanjung” lengkap dengan pengadegannya. Bentuk-bentuk atau struktur musikal yang diusung pada setiap adegan pada umumnya dikembangkan dari potongan-potongan repertoar musikal atau teater di Bali, seperti gambang, slonding, gender wayang, arja dan teknik vokal yang ada pada gambuh.

Perlu pula dicatat di sini ada pula bentuk-bentuk siklis ala minimalis. Semua genetika musikal di atas telah bermetamorfosis dalam ujudnya yang berbeda. Sebagai capaian awal, proses ini melahirkan karya dalam ujud karya elektronik-komputer atau modus ini sering disebut tape music.

Wilayah proses diatas bersifat amat individual dan personal. Bagi komposer yang telah terbiasa dengan pola kerja mekanik dari sistem komputer memang hal ini menjadi sebuah teritorial yang tak terbatas, penuh keleluasaan dan menawarkan berbagai kemungkinan. Pola-pola beat, ritme, dinamik ataupun melodi panjang yang mempunyai kompleksitas tinggi sekalipun dapat diciptakan disini. Teknologi digital mampu merubah dan memproduksi suara-suara dari sampling hasil rekaman alat akustik menjadi jauh lebih mengesankan, cerah, bergema, doubly stereo dan meruang.

Pun pengunaan range (wilayah nada) pelog dengan teba yang luas. Hal ini dikarenakan, alat sebentuk gangsa atau saron slonding yang diciptakan mengadaptasi susunan nada-nada piano yang mendekati duabelas nada. Keluasan wilayah nada inilah yang mampu membuat perubahan-perubahan nuansa musikal yang kaya, bervariasi dari tangga nada yang satu bermodulasi ketangga nada yang lain dan alih laras dari yang satu ke yang lainnya. Lompotan-lompatan nada dari tinggi ke rendah atau sebaliknya membuat susunan komposisi menjadi lebih berjiwa.

Akan tetapi, kini proses penciptaan kreatif yang bersifat personal tadi jelas-jelas menjadi probem. Terlebih lagi karya computer ini akan dipertemukan dengan kelompok penabuh. Suatu tahapan lain dari proses yang diibaratkan menjadi ajang sosialisasi dan pembudayaan karya personal. Transformasi dari karya komputer itu menjadi sangat problematik.

Faktor Kesulitan

Pada karya musik ini, Kadek secara prinsip telah menuangkan karya-karyanya lewat transfer materi yang ada pada jalan umum. Pada tahap awal, para musisi diberikan kesempatan untuk mendengarkan karya komputer secara intens dan berulang-ulang. Tahap kedua dilakukan latihan perindividual bagi setiap instrument menurut susunan pengadegan. Tahap yang terakhir adalah setiap instrument dihadirkan secara simultan.

Dapat dikatakan bahwa faktor kesulitan yang paling tinggi dari proses membangun kembali karya komputer elektonik ke dalam akusik adalah terletak pada permainan saron, suling dan jegogan.Chaos perasan pemain saron terjadi karena sulitnya mengidenifikasi nada-nada yang mempunyai sruti (jarak nada-nada) yang amat dekat. Pada kemampuan dan pengalaman penabuh sebatas kemampuan pelog sauh pitu, perubahan dalam setiap potongan melodi sering baginya tidak secara signifikan dapat dibedakan, padahal secara musikal disana telah terjadi perubahan.

Banyaknya pola ritme yang off beat dalam siklis yan sama, namun dimainkan dalam tangganada atau laras yang berbeda membuat perasaan penabuh dalam overlapping yang tinggi. Juga, proses ini melahirkan pola-pola perubahan dramatik dalam satu adegan-yang dalam garis tradisi disebut angsel dimana sang aktor atau penari membuat angkaban. Pada karya ini aksen semacam itu dibuat berbeda, lebih sederhana, tapi tidak biasa dalam referensi tradisi. Walaupun maknanya sama,namun hal ini tetap menimbulkan sesuatu perasaan mengganjal yang tidak enak dan harus dilakukan oleh musisi.

Kalau kita tanyakan hal ini kepada setiap penabuh, semuanya akan merasakan perasaan yang mengambang. Namun begitu, saya percaya pada pengamatan ahli musik Eduard Hanslick bahwa isi musik itu bukanlah apa yang dirasakan oleh para musisi yang memainkan komposisi tersebut atau apa yang ditulis oleh komposer. Isi musik itu adalah apa yang terdengar oleh penonton.

Sebagai musik yang dipersiapkan untuk mendukung suatu presentasi ekspresi teaterikal, karya musik ini terasa efektif. Pengulangan pola-pola musikal dalam kebiasaan tradisi yang memberi kelonggaran bagi aktor untuk berimprovisasi, ditiadakan sama sekali. Jika ada, itu sudah dihitung dengan presisi tertentu. Para penabuhpun tidak bisa leha-leha. Perubahan-perubahan musikal kerap sangat mendadak.

Semua harus konsentrasi pada adegan, sementara memori belum begitu nempel di kepala. Jika satu nada saja tertingggal, kita sudah tak lagi bisa mengikutinya. Sebab, tidak ada celah-celah musikal yang bisa diikuti. Tidak ada instrument atau musisi yang berlaku leader. Semua alat punya porsi penggarapan sendiri-sendiri.Meskipun karya ini telah diuji cobakan, namun proses ini masih meninggalkan hutang. Dikatakan begitu, baru delapan adegan yang mampu tergarap dalam 10 hari proses yang intens(pagi,siang dan malam), sementara enam yang lainnya belum tersentuh.

Sesungguhnya masih banyak yang dapat diwacanakan dalam proses penciptaan “Sri Tanjung”. Penulis ingin mengaris bawahi sekali lagi bahwa keseriusan dan kebutuhan waktu yang panjang untuk menciptakan karya-karya secara kolektif mutlak diperlukan. Mencanangkan konsep-konsep yang jelas dan baru disertai proses penciptan yang suntuk diharapkan akan melahirkan karya-karya baru yang mampu melongok kemasa depan, progresif dan ketika dipresentasikan di depan publik akan menjadi sebuah bentuk pembelajaran bersama, sebagaimana biasa karya-karya baru diwacanakan dalam dialektika kebudayaan..

*I Wayan Sadra, pengajar di Institut Seni Indonesia, Solo
Tulisan ini sudah dimuat di Rubrik "Budaya" Bali Post Minggu, 1 Februari 2009

Monday, January 19, 2009

Liputan Media

Inovasi dan daya tarik tema drama-tari Sri Tanjung ini membuat pre-view pementasannya mendapat sambutan hangat dari masyarakat pecinta seni dan mendapat liputan media yang cukup luas yakni: Bali Post, The Jakarta Post, Bali Orti, Jawa Pos (Radar Bali), Nusa, Bali TV, Dewata TV.

The Jakarta Post:
Suardana, an award-winning director and composer, has the aesthetic penchant of the chemist. He loves to combine elements from different periods of history to create dramatic works that are refreshingly new and disturbingly familiar all at the same time.





Bali Post:

"Kendati mengangkat cerita carangan Mahabarata yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Bali, tidaklah membuat karya pertunjukan ini biasa-biasa saja. Ia menjadi luar biasa karena digarap sungguh-sungguh dengan mengerahkan segenap potensi yang ada, baik potensi pemain, alat musik, kostum, tata lampu maupun unsur dramaturgi...."





Bali Orti:
"... tetapi tangan dingin Kadek Suardana mampu membuat cerita ini menjadi pementasan yang sangat bagus. Melalui garapan yang luar biasa ini selain memperkaya kesenian Bali, Kadek menggugah para seniman Bali untuk selalu gelisah dan melakukan pembaharuan-pembaharuan pada seni tradisi warisan leluhurnya...




"Bukan saja Parahyangan (alam spiritual) dan Palemahan (lingkungan) saja yang dirwat. Pawongan (diri manusia), juga harus di ruwat. Bahkan, justru pawonganlah yang harusnya lebih sering diruwat karena manusialah yang menyebabkan dunia spiritual dan lingkungan jadi kacau dan tercemar..."

Monday, January 5, 2009

Tentang Pementasan Sri Tanjung

Mulanya adalah sebuah keprihatinan Kadek Suardana terhadap miskinnya inovasi pada seni pertunjukan di Bali. Kegalauan tersebut lalu bergulir dalam diskusi demi diskusi antara lain dengan A.A.N. Puspayoga, seorang pecinta seni pertunjukan Bali asal Puri Satria – Denpasar, maka lahirlah drama-tari bertajuk “Sri Tanjung – The Scent of Innocence” ini.

Di bawah pimpinan Kadek Suardana, cerita Sri Tanjung dihidupkan kembali lewat sebuah proses kreatif yang sangat intens. Proses penggarapan diawali dengan penelitian, interpretasi naratif, penulisan skrip, lalu penggarapan komposisi musik dan tembang. Semua itu dimaksudkan untuk membuat padu-padan yang harmonis yang menjembatani masa lalu dengan masa kini.

Dalam garapan ini seniman dari berbagai generasi dan berbagai bidang seni pertunjukan bergabung untuk melakukan eksplorasi dan persilangan idiom-idiom tradisi. Hasilnya: sebuah pertunjukan yang memancarkan ekpresi artistik bernuansa kontemporer yang menyatu secara estetis. Sebuah karya alternatif yang merevitalisasi kesenian tradisi dan mudah diapresiasi oleh masyarakat luas.

Monday, December 29, 2008

Sinopsis Pementasan Sri Tanjung

Ini adalah kisah seorang perempuan bernama Sri Tanjung yang diambil dari Kidung Sri Tanjung. Kisah ini menggambarkan percintaan yang hangat dan mesra antara Sri Tanjung dan Sida Paksa, patih kerajaan Sinduraja yang tampan dan perkasa. Namun, karena hasutan Prabu Sulakrama, raja Sinduraja, Sida Paksa menjadi hilang kesadaran dan buta terhadap realitas kehidupan. Laki-laki perkasa itu tunduk dan patuh pada titah sang raja hingga tega membunuh Sri Tanjung, istri tercintanya.


Sebuah keajaiban terjadi saat keris Sida Paksa menghujam tubuh Sri Tanjung. Darah yang membuncah dari luka Sri Tanjung menebarkan bau harum semerbak, pertanda bahwa dirinya tak bersalah. Namun apa daya, ibarat nasi telah menjadi bubur, Sida Paksa tak sanggup menarik kembali apa yang telah diperbuatnya terhadap Sri Tanjung. Hanya penyesalan yang menggelora di relung jiwanya. Beruntung Dewi Durga jatuh iba pada Sri Tanjung yang berhati bersih itu. Sang Dewi menghidupkan perempuan itu kembali…

Drama-tari Sri Tanjung: The Scent of Innocence mengambarkan nasib tiga tokoh di atas dalam sebuah drama berbahasa kawi dipadukan dengan komposisi tari dan tembang - tembang Bali yang dieksplorasi sesuai dengan karakter masing-masing adegan. Di dalam drama tari ini ditampilkan juga beberapa bait nukilan karya-karya sastra dalam bahasa jawa-tengahan seperti Kidung Kaki Tua dan Kidung Jayendria. Kidung-kidung tersebut dikemas khusus untuk mengillustrasikan suasana hati para tokoh dalam cerita ini. Pada puncak pertunjukan, penonton akan menyaksikan Sri Tanjung, yang diberi anugerah alam oleh Dewi Durga, menghapus dosa suaminya dan memberi kekuatan untuk menjatuhkan Prabu Sulakrama, yang dalam pertunjukan adalah simbol kekuata yang menentang hukum alam.


Saturday, December 27, 2008

Sepintas Tentang Cerita Sri Tanjung

Cerita Sri Tanjung adalah karya sastra yang ditulis di Banyuwangi pada abad ke 17. Saat itu Banyuwangi masih bagian dari kerajaan Blambangan, kerajaan terakhir di Jawa Timur. Ahli literatur Jawa asal Belanda, Dr. Theodoor Gautier Thomas Pigeaud, menempatkan cerita ini dalam kelompok karya-karya sastra yang diberi judul ‘Original Old Javanese and Javanese-Balinese exorcist tales and related literature in a bellestric form’. Yang dimaksud ‘Javanese-Balinese’ oleh Pigeaud adalah karya-karya sastra yang mengunakan bahasa jawa-tengahan, yang sumbernya berada pada kegiatan sastra di kerajaan Jawa Timur sampai Majapahit, dan kemudian berkembang di Bali (dan wilayah kekuasaan lainnya) semasa Watu Renggong memimpin kerajaannya di Gelgel. Karya ini satu kelompok dengan karya sastra macam Calon Arang, Sudamala, Wargasari, Nawa Ruci, Subrata, dan Sang Satyawan.

Cerita Sri Tanjung diperkirakan telah lahir di Jawa Timur sekitar awal abad ke 13, dan kemudian ditransmisi secara lisan. Dalam proses itu, cerita ini terintegrasasi ke dalam kebudayaan Hindu-Jawa dengan menempatkan beberapa tokoh utama dari cerita ini sebagai keturunan dari Nakula dan Sahadewa. Misalnya pada relief di Batur Pendopo Candi Panataran-Blitar, di luar Sri Tanjung digambarkan pula tokoh bernama Sang Setyawan. Demikian pula pada Batur Candi Surawana, Para-Kediri, terdapat tokoh bernama Bubuk Sah-Gagang Aking. Dalam relief-relief tersebut terbabar kisah yang intinya mengenai pencarian kesempurnaan hidup.

Satu hal penting dalam kisah Sri Tanjung, terdapat unsur ruwatan yang dalam bahasa Bali dikenal dengan panglukatan atau panyupatan atau pabayuhan, yaitu sebuah ritual yang diselenggarakan untuk melebur hal-hal negatif dalam diri sehingga diri ini menjadi lebih kuat dan suci. Unsur panglukatan ini juga menjadi tema utama di beberapa tempat pemujaan lain seperti Candi Tigowangi (1358) di Plemahan, Kediri; Candi Sukuh (1439), serta Candi Ceto di gunung Lawu, Jawa Tengah. Pada ketiga candi tersebut terdapat relief-relief cerita Sudamala, yaitu sebuah cerita yang memiliki hubungan erat dengan cerita Sri Tanjung, yang hingga sekarang masih diusung oleh masyarkat Bali saat pelaksanaan upacara panglukatan.

Zaman sekarang, cerita Sri Tanjung masih hidup di tengah masyarakat di sekitar Banyuwangi sebagai sebuah dogeng yang menceritakan asal muasal nama 'Banyuwangi', yang berarti sungai yang harum.

Di Bali, cerita Sri Tanjung pernah populer sebagai lakon dalam drama-tari Arja pada masa kejayaannya sekitar tahun 1970-an. Pada tahun 1980-an pun, di beberapa daerah di Bali, cerita ini masih banyak diangkat sebagai lakon pewayangan untuk upacara panglukatan.

Sekarang, cerita ini sudah hampir terlupakan oleh masyarakat Bali. Bahkan, ada selentingan bahwa di sebuah desa di Bali, kisah Sri Tanjung ini dilarang untuk diceritakan. Entah apa alasannya. Yang pasti, kita hanya bisa berimajinasi tentang kekuatan yang tertkandung dalam cerita ini....

Friday, December 26, 2008

Jadwal Pementasan Sri Tanjung

Sebagai pementasan pembuka, drama-tari ini akan digelar di dua kota yakni:

Denpasar
Gedung Ksirarnawa, Taman Werdhi Budaya
27-28 Februari 2009

Jakarta
Graha Bhakti Budaya
Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat
8 Maret 2009


Harga tiket untuk pementasan 27& 28 Februari 2009:
Rp75,000 (tempat duduk A)
Rp25,000 (tempat duduk B)

Tiket dapat diperoleh di:
- Tiara Mas Entertainment Telp. 0361 7807789; e-mail: tiaramas@gmail.com
- Official site: http://sritanjungarti.blogspot.com
- Warung Tresni, Jl. Drupadi, Renon Telp. 0361 264112

Tim Produksi

Konsep/Naskah:
Kadek Suardana, Gusti Putu Sudarta, Mari Nabeshima
Sutradara:
Kadek Suardana
Penata Musik:
Kadek Suardana
Koreografi:
Kadek Suardana
Asisten Koreografi:
Nyoman Sura
Penata Musik Vokal:
Gusti Putu Sudarta
Penata Kostum/Make-Up:
Made Dwi Puspayani
Set & Lighting Design:
Sonny Sumarsono

Pemain:
Gusti Ayu Kencana Merudewi -
Sri Tanjung
Gusti Ngurah Supartama - Sida Paksa
Wayan Sira - Prabu Sulakrama
Gusti Putu Sudarta - Dewi Durga
Gede Dharma Suarsana - Punakawan
Gusti Putu Sudarta - Bagawan Tambapetra

Pemusik:
Danis Sugianto
Gede Sweca
Kadek Adi Wirawan
Ketut Subrata
Made Arthya Talava
A A Putra Atmaja
Agung Putra
Mari Nabeshima
Cok Indah (vokal)

Konsultan:
Nyoman Candri
Made Sudiana

Produser Eksekutif:
Dewa Gede Palguna

Penasehat Artistik:
A. A. N. Puspayoga

    Blogger news

    Blogroll

    About